Pages

Thursday, March 15, 2012

what's on March ?

Tak terasa sudah Bulan Maret ya? Ada apa di bulan ini? Selain 'kehebohan' penilaian kinerja dan segala konsekuensinya, Selain issue mutasi dan reorganisasi yang beberapa bahkan sudah terealisasi, ada beberapa momen yang buat saya, patut ditandai di bulan ini (urutannya berdasarkan suka-sukanya saya ya..) :
1. Zulmi, insyaallah akan berulang tahun ke 6 tanggal 23 bulan ini, semoga jadi anak yang soleh kebanggaan keluarga, amin. 
2. Tanggal 26 bulan ini ada ulang tahun pernikahan yang ke-35 buat ayah ibu saya.
3. Tanggal 19 bulan ini, insyaallah seoran sahabat, si njonjah ini, akan melahirkan anak ke-2, semoga lancar persalinannya ya Njah, sehat ibu dan bayinya,amin. Sebetulnya si njinjah saya sarankan untuk membrujulkan diri tanggal 23 saja, biar ultahnya kembaran sama Zulmi, tapi dia khawatir nanti para lelaki kecil itu bikin gank heartbreaker or something...
4. Tanggal 10 bulan ini adik bungsu saya menikah.
Nah, prosesi ini yang ingin saya ceritakan dengan porsi sedikit lebih disini. Kenapa? karena 'korban-korbannya' (adik saya dan calon istrinya) hampir pasti tidak pernah blogwalking sampai kesini :D. Saya berpikir selepas menikah, saya akan terbebas dari keribetan pesta kawinan, mengingat adik bungsu saya, satu-satunya lajangers di keluarga kami, laki-laki. Ternyata saya salah, dan saya berkesimpulan, saya belum mengenal mama saya dengan baik, segala keribetan ini, seperti juga banyak keribetan di pesta kawinan saya dulu bersumber dari orang yang sama, mama saya. Diawali dari proses lamaran yang maksudnya saya rancang hanya untuk keluarga inti saja, ternyata pesertanya jadi meluas kemana-mana. Segala pakde bude, om tante, diajak serta, oia, dan para tetangga juga. Suami saya saja sempat kaget melihat hadirin yang berkumpul dirumah mama saya bersiap ikut mengiringi ke rumah calon besan, "Lho, jarene cuma kita, kok.." Saya sudah no comment saja lah. Si suami memang sengaja tidak saya update berita kurang penting semacam ini. Lalu, sebelum akad nikah di hari Sabtu, kami dua kali mengadakan pengajian di rumah, bayangkan saudara-saudara.. dua kali.. #hadeehh.. dan yang bikin iri, ketika salah satu dari sepupu saya datang dan bercerita dia barusan FBan dengan calon mempelai putri yang sedang ongkang-ongkangan di rumah (tanpa melalui segala rupa prosesi siraman dan midodareni yang terpaksa saya jalani dulu), sementara kami secara dua hari berturut-turut 'membanting tulang' disini :p Alhasil ketika hari H, kami semua kesiangan, akhirnya saya yang ingin mengikuti proses akad nikah justru harus melewatkan momen terpenting itu, karena masih ribet didandanin #ampun deh... Alhamdulillah semuanya terbayar saat resepsi dan berjumpa dengan sanak sodara karib kerabat, lelah tapi menyenangkan. Tapi, jangan berpikir itu adalah akhir keribetan ini, karena minggu depannya masih ada lagi satu acara di rumah mama saya itu, sepasaran atau apalah namanya...#owalaahh..
Beberapa quote yang saya ingat seputaran perkawinan ini adalah :

"Lhooh.. Om Maman itu, dari dulu itu ternyata belum menikah toh sama Tante Putri " (Zulmi, setelah  mencuri dengar apa sumber kesibukan saya akhir-akhir ini)
"Terus, tugasku apa Ma? Penerima tamu kecil?? asyiikk... nanti kita pake baju kembaran ya Ma, terus rambutku dipakein bando aja, tapi sepatuku sudah sempit. Eh, tugasnya penerima tamu kecil itu ngapain aja?" (Sheby, setelah  meneliti tugas kami satu persatu dan tidak menemukan namanya disana)

Anyway, Selamat ya Om Arman dan Tante Putri, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, saya nggak akan bilang akhirnya, karena sesungguhnya inilah awal dari kalian berdua :)

Sebetulnya saya punya beberapa foto buat dipasang, tapi masih tertinggal di kamera yang terbawa suami saya #halah..

Friday, January 20, 2012

caught in the middle..


Nah, jadi begini situasinya :
  1. Saya sedang serius bekerja, diiringi Hot n Cold nya Katy Perry, sambil berdendang-dendang ngaco, dan setiap menemui data 'ajaib' mulai ngedumel nggak jelas. Terdengar suara ketuk pintu dan salam yang langsung diiringi wajah seorang bapak yang sangat santun menyembul dari balik pintu ruangan saya. Si bapak ini dulunya sempat mengira saya adalah juga orang yang santun budi pekerti dan halus tutur bahasanya, bagaimana saya bisa tahu? Ketika dia tahu saya akan menikah dengan suami, dia bilang begini, "Saya ikut senang Mbak menikah dengan Bapak, orangnya sama-sama kalem dan sabar". Iya, waktu saya masih muda dulu, si bapak ini memanggil saya 'Mbak', baru-baru saja jadi ber 'Bu'. Saya cuma mesem, membiarkan dia dengan persepsinya :)  Nah, sepertinya persepsi itu kini telah berbalik 180 derajat, karena begitu masuk ruangan saya, sapaannya adalah , "Bu, tadi sedang ngobrol dengan siapa Bu? Kan nggak ada orang lagi di sini"  dengan wajah agak takjub tentunya. Eennggg....ehehehe, sambil nyengir lebar bilang "Ngomong sendiri Pak, saya biasa begitu kok"
  2. Jika sedang mengemudi, saya selalu mengomentari kondisi lalu lintas, perilaku para pengendara dan lain lain, tanpa memperhatikan ada tidaknya penumpang di mobil saya itu. Lha wong saya tidak ingin berdiskusi kok, saya hanya ingin komentar pelan-pelan, kalau kata orang jawa : nggeremeng. Selama ini yang paham kebiasaan saya sih, anak-anak dan 'bidadari' saya, mereka tahu saya tak perlu ditimpali kalau sedang begitu. Nah, sejak 2 minggu yang lalu ketika suami saya sakit dan resmi membuat saya jadi pengemudi tunggal, pada suatu kesempatan saya supirin, dia bertanya, "Kamu itu kalo lagi nyupir sendiri opo yo nggeremeng dewe koyo ngene?"  #waduh ketahuan "ya iya.." sambil nyengir, soalnya speechless. Dia berusaha menunjukkan wajah maklum. Suatu ketika, saat mendapati si bungsu kami bermain game sambil nggeremeng, maka dia langsung melirik saya, "Sekarang aku tau, darimana dia belajar begitu" ups..
Begitulah, kira-kira kalau tertangkap basah sedang ngomong sendiri begitu, menurut orang-orang itu saya nggak terlalu aneh kan?

Wednesday, January 11, 2012

status = level kebutuhan akan perhatian?


Berawal dari pertanyaan Bos Besar saya, suatu ketika dalam perjalanan ke KanPus :
BB (bos besar, bukan bau badan yaa..) : Bu, kalo orang yang suka ngirim-ngirim gambar ke grup, tapi gambarnya isinya dia dan keluarganya terus, dalam berbagai kesempatan, itu artinya apa ya ?
S (stap a.k.a saiah): #membatalkan niat molor sepanjang perjalanan, eenngg apa ya Pak? caper kali ya Pak.. #jawaban spontan yang sangat asal
BB : iya lho, awalnya saya sih nggak perhatian, tapi lama-lama kok dia terus ya yang ngirim, dan gambarnya gambar diaaa semua dan keluarga, lama-lama kan jadi gimanaa yaa..
S : bosen juga ya Pak? ya leave grup ajah Pak #tarik napas panjang dan mulai sok analitis : ya mungkin pada dasarnya memang orangnya suka narsis, tapi bisa juga dia caper seperti yang saya bilang tadi, dan untuk orang-orang selevel Bapak atau bahkan lebih tinggi lagi, kehausan akan perhatian tadi implikasinya bisa jadi hal-hal tak terduga semacam itu. Makin tinggi status sosial atau jabatan seseorang, maka makin kecil kemungkinan ybs untuk bisa curhat dengan bebas. Yang mau dicurhatin tidak banyak, topik yang dicurhatkan pun jadi makin terbatas. Sebetulnya mungkin teman Bapak yang narsis tadi dia cuma ingin ditanya : itu lagi dimana, sedang acara apa, atau mungkin ingin dipuji atau apa.. yang gak dia dapet dari lingkungan terdekatnya, yang mungkin saja karena keluarga dan saudara sama-sama sibuk, atau stafnya juga yang segan sama dia..
BB : iya ya Bu, bisa jadi ya..

Saya lalu jadi ikut berpikir juga apakah saya tadi mengigau? sebetulnya saya menjumpai banyak fenomena semacam ini (baca : haus perhatian.red) dan ujung-ujungnya yang dijadikan pelarian adalah dunia maya, ya FB, twitter, BBM macam-macamlah. Sering saya menjumpai orang-orang yang memasang status yang kurang pantas, karena menurut saya itu 'jerohan' rumah tangga. Ada yang berupa curcol, hujatan bahkan amarah yang tidak tersalurkan pada tempatnya. Artinya tidak ada manfaat yang didapat dari memasang status-status semacam itu, uneg-uneg tidak tersampaikan dengan tepat sasaran, yang 'ditembak' bisa jadi malah cuek dan merasa tidak bermasalah, jadi ya wasting time and energy saja. Oh wait..bisa jadi tidak buang energi, karena untuk beberapa orang melampiaskan sesuatu itu adalah kebutuhan, maka ketika sudah dilakukan mereka akan merasa lega, karena yang dibutuhkan adalah pelampiasan, bukan saran atau tanggapan, apalagi solusi. Tetapi bukan tidak mungkin setelah amarah meluap membabi buta semacam itu, yang terjadi justru malah menyesal sudah overreacting

Lalu ada juga status-status atau mungkin foto-foto seperti dalam kasus Bos Besar saya itu, yang sifatnya 'pamer'. Mengapa saya beri tanda petik ? Karena mungkin si pemasang status tidak bermaksud pamer, hanya ingin 'berbagi informasi' dia sedang ada dimana, dengan siapa saja, untuk keperluan apa, berapa lama dan seterusnya. Dampaknya apa? orang-orang yang tidak ingin tahu informasi tersebut, jadi merasa terganggu, karena informasi tersebut dianggap tidak penting tetapi mereka 'dipaksa untuk tahu'. Dan kalau saya pribadi sih ya heran saja : kok ada ya orang bodoh yang mau mengkomodifikasi kehidupan pribadinya sendiri, kalau istilah saya menjadi wartawan infotainment untuk diri sendiri hahaha.. Belum lagi status yang mungkin bisa membahayakan diri dan keluarga (yang ini saya pernah membaca ulasannya di sebuah grup BBM), semacam : "sendirian di rumah, hii" atau "lagi liburan di xxx with luvly famz". Tidakkah terpikir oleh para pemasang status itu, bahwa status semaam itu bisa jadi 'undangan' buat para penjahat menggarong rumah mereka ketika sedang ditinggal berlibur atau justru menyatroni ybs ketika sedang sendirian di rumah?

Nah, jadi apa tadi manfaat memasang status 'sampah' seperti contoh diatas? Tidak ada? Baiklah. Saya bukan tidak pernah memasang foto liburan di FB, atau status 'sampah' tidak penting semacam itu, but I''ve learned, dan saya sudah bosan, kapok, malas. Apa pasal? sekitar dua minggu yang lalu saya bahkan menjadi korban kehausan perhatian seseorang yang kebetulan meluapkan dalam status FB dan BBM. Saya yang males nyetatus dan biasanya menikmati perubahan status rekans sambil lalu saja, atas nama 'patuh pada perintah' akhirnya rela-rela saja 'memantau' perkembangan 'status palsu' itu, update progress report plus interpretasi ngawur pribadi, aduuhh ribeett.. dan voilla!! jadinya : berantemm!! Hadehh.. tuh kan jadinya malah saya yang curhat ga jelas disini hehehe... Intinya, jika ada sesuatu yang perlu dikomunikasikan, komunikasikanlah secara efektif. Identifikasikan siapa targetnya, kenali karakter masing-masing target dan cari cara yang paling efektif untuk berkomunikasi dengan si target. Tidak perlu mengumbar hal-hal yang tidak perlu diumbar kepada publik. Tidak bermanfaat ! Dan, belum tentu publik ingin tahu, kan Anda bukan artis toh? eh, tapi kalo Anda artis, ato (sok) ngartis ya silahkan saja :D

Friday, December 02, 2011

usia itu absolut, yang membuat relatif penampakannya :)

Awal minggu ini, sesuai undangan yang difax pada Jumat minggu lalu sekitar jam 5 sore, saya diajak Bos Besar saya menghadiri rapat di Kantor Pusat. Membaca daftar yang diundang, saya agak takjub juga, mengingat topik yang akan dibahas adalah usulan Unit kami untuk memberikan sertifikasi ahli pemeliharaan ke Kantor Pusat. Nah, usulan Unit kecil ini ternyata ditanggapi dengan serius dan membawa kami pada rapat hari itu, yang juga mengundang Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan dan mantannya (mantan Kapusdiklat maksudnya bukan mantan pacar), Kepala Divisi OD, dan beberapa Senior Manajer entah apa, saya juga tidak terlalu ngeh dengan struktur organisasi holding kami itu. Nah, saya, 'prajurit' wanita satu-satunya di ruangan itu, merasa terdampar dalam rapat strategis para 'Jenderal' pemikir dunia, setidaknya dari sekilas pandang saya kepada seluruh peserta rapat sih begitu. Sebagai bentuk pembunuh kebosanan pertanggungjawaban keikutsertaan saya dalam rapat ini, maka saya tetap menyimak dengan tekun setiap pembicaraan, dan menemukan bahwa selama ini kami sebagai anak perusahaan, bagaikan katak dalam tempurung. Kami sudah merasa hebat dengan pencapaian kami, walaupun dalam banyak hal memang pencapaian kami layak diacungi jempol. Tapi kami ternyata tidak mengetahui perubahan-perubahan strategis yang sedang terjadi di Bapak perusahaan kami, kami belum sepenuhnya meratifikasi seluruh peraturan Bapak perusahaan kami itu dan banyak hal lain yang berujung pada komentar, "oooo..." panjang dari saya, dalam hati tentu saja. Di tengah pemaparan dan diskusi-diskusi panjang itu saya memutuskan untuk merajut saja sebenarnya, tapi mengingat merajut pun saya tak bisa, maka saya membuat semacam minute of meeting untuk konsumsi pribadi. Biasanya dilengkapi dengan komentar2 iseng asal-asalan, namanya juga konsumsi pribadi. Selebihnya saya kembali menyimak jalannya rapat, dan bersyukur saya tidak perlu mempresentasikan usulan Unit kami di tengah 'para dewa' ini karena Bos besar sudah membereskan segalanya *yess!! Di tengah sesi tiba-tiba mereka menyadari, bahwa sang pengundang dan sang tuan rumah rapat ini, keduanya adalah dua pihak berbeda, yang jelas bukan saya dan Bos Besar, tidak ada yang menyiapkan notulensi sebagai bentuk legalitas hasil rapat ini. Maka dengan semena-mena, mengingat saya satu-satunya wanita, tugas itu pun jatuh ke tangan saya. Dan saya bersyukur saya tidak melakukan hal yang biasanya pada minute of meeting saya itu , beberapa menit sebelumnya saya membunuh keinginan saya untuk menuliskan catatan penting : si Bapak di Ujung ke dua dari kanan kok mirip Richard Sambera ya *hahay..

Setelah isi notulensi disepakati, tugas berikutnya adalah mencetak untuk kemudian ditandatangani para pejabat berwenang. Ketika akan beranjak, bapak-bapak orang holding di sebelah saya bertanya, "Mbak, kalau SPPD ini ditandatanganinya kemana ya, kalau disini ?" dengan sigap saya pun lalu menawarkan bantuan, "biar saya bawa aja Pak, sekalian saya mau ngeprint ke atas". Mengingat si bapak adalah tamu #padahal saya juga tidak tahu siapa yang berwenang menandatangani dan ruangannya di lantai berapa, pokoknya saya menuju salah satu Subdit langganan saya di KanPus ini untuk numpang ngeprint, nanti dari sana baru bertanya.

Sesampai di lantai empat, setelah berhaha-hihi dengan penghuni ruangan, saya diijinkan membajak salah satu komputer mereka dan mulai mencetak. Taklama kemudian lewatlah si Bubun, yang dulunya pernah magang di Unit saya lalu ditarik ke KanPus. Seperti biasa dia menyapa heboh :
Bubun : "Hay Mbaak pakabar, ada acara apa kemari ?" #cipikacipiki
Saya : "Alhamdulillah baik, Bubun pakabar? Ini rapat sama holding"
B : "Owgh, yang di lantai 1 ya, pantesan ada si ***" #si Bubun menyebut nama bapak penitip tandatangan tadi. Saya kaget,
S : "Lah Bubun kenal Pak *** ?"
B : "Ya iya Mbak, wong kami seangkatan"
Oops...Nah lho..Kirain si bapak itu, yaahh.. speechless deh. Pantas saja, tadinya saya sudah menduga 'ada yang tidak beres', ketika si Pak *** tadi mengulas pengalaman benchmark dan hubungannya dengan proses yang sedang dan akan terjadi di holding, si bapak menyebut namanya untuk mengganti sebutan kata ganti orang pertama. Misalnya saya ngomong begini : Ketika berkunjung ke PT. XYZ itu, Maya (instead of saya!!) melihat banyak hal yang bisa kita tiru, lalu Maya sampaikan kepada Koordinator blabla.. , kurang lebih begitulah, kesannya manja banget ya :D Dalam hati saya membatin : kok ada ya generasi tua yang menyebut dirinya sendiri dengan namanya sendiri, bapak-bapak pula *sigh*. Salahkan saya yang tertipu oleh penampakan "Pak ***".

Sekembali saya ke ruang rapat, menyerahkan draft notulensi untuk ditandatangani dan tentunya menyerahkan titipan SPPD si "Pak ***", eh dia bilang begini,"Makasih ya Mbak, eh tadi ada dua yang masih ketinggalan, terus saya titipin ke lantai 5, gimana Mbak?" Reaksi saya? sambil pasang senyum termanis bilang, "sama-sama Pak, owgh gitu ya, waahh kok bisa ketinggalan sih Pak, ini yang 5 dah kelar nih, ntar coba bapak tanyain ke lantai 5 lagi yaaa, tadi saya ga dititipin sama si mbak sekretaris soalnya" hehehe..olahraga dikit kan gapapa ya"Pak" :D

Lalu rapat berlanjut sebentar dan saya menemukan fakta lain, bahwa salah satu peserta rapat dari holding, yang saya pikir usianya yaah... sebelas dua belas dengan "Pak ***" #tentunya setelah saya tahu kisaran usia si "Pak ***" ternyata adalah teman seangkatan Bos Besar saya yang berarti umur mereka berdua sepantaran !! Hadududuh...saya makin merasa bodoh dalam menaksir usia seseorang.

Sepertinya saya 'termakan' asumsi sendiri bahwa penampakan seseorang akan berbanding lurus dengan usianya, maka saya sering heran walaupun senang juga, ketika saya jadi 'korban' kesalahan penaksiran usia tadi. Saya pernah dikira anak PKL oleh satpam baru kantor saya, hampir 'digoda' anak-anak magang baru karena dikira kakak angkatan mereka yang berarti usianya sepantaran. Di kesempatan lain, sempat pula 'diinterogasi' ketika akan mengambil data yang tertinggal karena memasuki kantor di hari libur. Dan yang akhir-akhir ini, dipandang 'sebelah mata' karena kebetulan saya 'menempati kotak' yang biasanya ditempati orang-orang yang sudah sepuh senior. Saya tidak kesal, bahkan sejujurnya saya menikmati momen-momen 'dipandang sebelah mata' itu, saya merasa jadi tidak ada beban harus bagaimana bagaimana, kecuali untuk urusan yang memerlukan persuasif ya. Pernah suatu ketika, dalam kesempatan studi ekskursi mahasiswa dari "sekolah tinggi tinggi sekali", bapak dosen pendamping sempat berkata, "nggak nyangka ya, Ibu ternyata masih muda", eh?? Pernah pula seorang asesor eksternal meminta data langsung dari bos saya, dan berasumsi saya memberi jawaban yang ngawur, maaf ya bapak, dalam konteks ini, sayalah 'bos ngawur' itu hahaha.. tapi data saya real lho *wink* Dan yang paling baru, seorang calon mitra, dari sebuat biro perjalanan, tampak sangat ogah-ogahan mendengar penjelasan dari saya yang sudah berbusa-busa ini. Bukan masalah semangat sih, saya cuma ingin cepat selesai saja, jadi saya bisa mengerjakan yang lain, karena pertemuan dengan mereka tidak saya kategorikan bekerja :D Nah ketika salah seorang Supervisor saya masuk, yang kebetulan si bapak ini memang auranya sangat berwibawa, dengan kumis melintang dan suara yang 'dalam'. Orang-orang travel ini langsung tampak 'behave' dan sangat respect. Ooo..tahulah saya, mungkin yang ada di benak mereka : nih anak kecil ngapain lagi ngomong panjang lebar, bukannya langsung manggilin bossnya aja kek.. Ketika mereka berpamitan, si bos travel sepertinya tak tahan untuk tak bertanya, "kalau Bu Maya itu disini sebagai apa ya ?" saya harus menahan diri untuk tidak bilang saya office girl, yang berarti girl who work at the office hehehe, sebelum bapak Supervisor saya yang berwibawa itu memotong, "Bu Maya itu 'bos' saya" Aduhh... merusak acara deh Pak, penyamaran saya jadi terbongkar kan... Padahal saya berencana untuk berperan jadi juru ketik pada pertemuan kami yang berikutnya *sigh*

Gambar diambil dari sini

Tuesday, November 15, 2011

one happy wikend

Wiken kemarin dua orang sahabat dari Bekasi berkunjung kerumah saya, lalu menyusul seorang sahabat lagi bergabung dan berhahahihi, sayang sahabat yang ini harus absen karena menunaikan kewajiban mendampingi sang suami :) Jadilah kami ngobrol ngalorngidul melepas kangen, membongkar segala oleh-oleh, titipan dan beberapa koleksi batik cirebon bawaan si Neng, terima kasih ya Cantik :*

Persahabatan saya dengan si Neng ini diawali dari perasaan senasib sebagai 'anak baru',
fresh graduate, yang masih fresh di instansi tempat kami mengabdi. Dia satu-satunya cewek di angkatannya yang terdampar di Unit kerja kami, saya pun demikian. Sudah jadi minoritas dari segi usia, minoritas pula dari segi jenis kelamin, jadi ibaratnya kami ini perawan ting-ting di sarang bapak-bapak tong-tong #hayahh.. Nah, dari sana kami jadi akrab, sebetulnya tidak sulit untuk menjadi akrab dengan si Neng, lha wong dia itu sangat baik, menyenangkan, ramah, tidak sombong, rajin menabung lagipula pintar #memang berjiwa pramuka sekali dia. Kenapa lalu kami bisa bersahabat? Selain rasa senasib diatas, mungkin karena kami punya banyak kesamaan, sama-sama suka baca meski dengan kadar yang berbeda, sama-sama anak pertama dengan dua adik yang umurnya juga sebelas-dua belas dan sama-sama beribu seorang guru, sehingga dibesarkan dengan pola asuh yang kurang lebih sama. Saya percaya, anak pertama memiliki 'kekuatan' lebih untuk melindungi hati dan diri mereka. Kami punya mekanisme pertahanan diri yang unik, yang membuat kami kuat, hal ini karena kami, anak pertama cenderung dijadikan 'sandaran emosi' para orang tua kami. Mungkin karena secara usia kami lebih dulu siap untuk diajak diskusi dibandingkan dengan para krucil adik kami. Dan seringnya, hal itu terbawa di kehidupan sehari-hari, kami cenderung untuk menjadi tempat curhat yang kadang melelahkan jiwa. Maka saya tahu rasanya, ketika pada suatu masa, dia merasa sangat 'penuh', karena saya pun pernah merasakan hal yang sama. Dan pada titik itu, saya menemukan dia, sebagai tempat bersandar. Pada titik itu, saya menemukan dia sebagai penyejuk jiwa, penceria suasana.

Jadi teringat masa-masa muda dulu, dimana kami selalu pulang kantor bersama dengan angkot yang sama. Dia turun pasar turi untuk kemudian pindah 'ojek' ke Mbak Ucik yang dengan setia menunggunya, saya turun di bawah
flyover margomulyo untuk pindah angkot. Sering pula kami 'mampir' dulu ke mall untuk berburu buku, makan, nonton dan bersenang-senang, sebelum pisah jalan pulang ke rumah masing-masing. Kegilaan juga masih berlanjut ketika ada acara kantor macam family gathering, kami yang lajang-lajang bergembira ini, tentu saja jadi anomali di tengah karyawan karyawati lain yang hadir lengkap beserta 'rombongnya'. Kehadiran kami sudah mengundang kernyitan di dahi karena bawaan baju yang sangat minimalis untuk bisa memaksimalkan bawaan bekal makanan. Disaat yang lain tidur, menyimpan tenaga untuk jalan-jalan keesokan harinya, kami malah sibuk ngobrol bisik-bisik sambil cekikikan. Saat yang lain sibuk belanja oleh-oleh, kami sibuk foto-foto. Ujung-ujungnya kami malah berteman dengan anak-anak karyawan yang rata-rata usianya yaahh.. abege sudah kelewat, dewasa belum terlalu. Bersama dia, masa-masa harus lembur sebagai konsekuensi menjadi pengepul data dari Sub Unit jadi masa-masa yang menyenangkan, lelahnya tetap, tapi senangnya lebih-lebih. Apalagi kalau kami berdua kemudian berkolaborasi melakukan kegiatan 'slicky tricky' yang sangat oportunis demi kemaslahatan... kami, hehehe. She is just the perfect partner in crime ;;)

Pernikahan saya, disusul dengan kelahiran anak-anak saya, membuat dia pun dekat dengan suami dan anak-anak saya. Kepindahannya ke Unit di ujung barat Pulau Jawa, membuat saya merasa kehilangan, sangat. Tapi mengingat alasan-alasannya, maka rasa kehilangan saya jadi terdengar egois. Rindu? pastinya, kami masih sering berbagi cerita di layar maya, meski kadang alasan pekerjaan dan leletnya jaringan menjadi kendala.

Hari ini dia berulang tahun, doa saya, semoga dia mendapat karunia usia yang barakah, diberi kemudahan dalam segala urusan, dunia dan akhirat, amin. Kadonya? adda ajjah.. ;)

Judul postingan diatas, sama dengan judul album foto yang diupload di akun FB sang empunya, si sahabat saya itu. Oia, dan gambar diatas, itu kue ultah yang kalau bisa dipesan disini saya akan dengan sukacita memesan kue unik semacam itu. Saya berharap si Neng bisa mengunjungi kota-kota yang ada di kue itu dan saya akan senang mendapat oleh-oleh cerita dan foto-fotonya :)

foto diambil dari sini

Thursday, November 10, 2011

bukan surat cinta (kepada dia)

Kepada dia, yang hampir pasti tidak akan pernah membaca tulisan ini. Yang walaupun bukan sekali dua kali saya pameri, dan berusaha saya senangkan, karena akhirnya saya memakai nama belakangnya, meski hanya sebagai alamat blog, tetapi tetap konsisten dengan reaksi yang 'alakadarnya'.

Kepada dia, yang darinya saya belajar arti kesabaran. Bahwa kadang, ada saat dimana perih dan amarah yang kita peram dengan masa tertentu, dapat bermetamorfosa menjadi kupu-kupu. Jika dan hanya jika kita telah mampu melihatnya dengan kacamata yang berbeda, bahkan sering sambil melepas tawa. Indah dan tidak menyakiti, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang terkasih. Saya belajar, dan masih berusaha, tentang seberapa tingkat keberhasilan saya, itu lain perkara.

Kepada dia, dengan siapa saya telah memilih untuk melewatkan sisa usia. Yang telah menjungkirbalikkan hitung-hitungan dan logika saya. Yang telah membuat saya tak lagi peduli untung rugi. Yang saya tahu saya mencintainya, dan sebaliknya. Apakah dia mencintai saya sebesar saya mencintainya, itu saya tidak tahu dan tak mau tahu.

Kepada dia, dengan siapa kami saling berjanji untuk menapaki setapak flamboyan jingga dan menjadi tua bersama. Yang pelit berkata-kata tentang cinta dan tidak pernah menjanjikan apa-apa. Terima kasih telah mengajari saya, bahwa kata-kata tanpa tindakan nyata hanya bualan semata. Juga bahwa penghamburan kata-kata akan membuat mereka jadi kehilangan makna.

Selamat hari jadi Cinta, untukmu yang terbaik dari segala doa..

gambar diambil dari tempat biasanya

Monday, October 03, 2011

rumput tetangga yang (biasanya tampak) lebih hijau..

"How I miss my former Boss" adalah status sahabat saya beberapa waktu yang lalu. Ketika berjumpa dia pun, syndrom 'merindukan Bos lama' itu masih belum juga hilang. Dia bercerita betapa, meskipun mereka sering 'berantem', dan bosnya termasuk orang yang 'pahit lidah', tapi dia, sahabat saya itu, merinduinya, sangat. Usut punya usut, ternyata hal-hal 'negatif' diatas masih kalah sama hal-hal positif yang dimiliki Si Bos, yang ternyata sangat teliti, mau 'melindungi' dan memperjuangkan anak buahnya dan bisa mengarahkan serta menjadi suri tauladan yang baik bagi semesta kecil mereka. Secara naluriah kita sebagai manusia pastilah membanding-bandingkan, mau harga susu, mau model baju, lingkungan dan orang-orang baru pun pasti tak luput dari proses membanding-bandingkan ini, mau dihindari kok ya susah. Nah, sepeninggal Si Bos lama pasti kan ada penggantinya nih, yang berarti ada obyek pembanding, maka proses membanding-bandingkan tadi pun dimulai.

Selepas senam pagi tadi, seorang junior, rekan sesama anggota Tim 'Kerja Rodi' dulu mengeluhkan hal yang sama, "Yang dulu kita bilang parah, sekarang nampak sangat 'lumayan'. Dulu meskipun segala terserah kita tapi kerjaan lancar, kita pun nyaman kerjanya. Nah sekarang, segala keputusan kita ga dilibatkan, kita kerja salah dikit sudah main sindir aja ngritiknya, ga nyaman blas, Mbak". Padahal dulu dia dan saya pernah juga saling berkeluh kesah tentang tabiat Ketua Tim Kerja Rodi ini. Another comparation..

Ada juga rekan yang sedang dalam masa transisi, akan pindah tugas ke Unit lain. Dia bercerita bahwa lingkungan dia yang lama, pada era kepemimpinan yang sebelumnya, memang tidak kondusif untuk bekerja dengan nyaman, tapi dia merasa mendapat banyak pelajaran dari sana. Dari tugas-tugas manajerial yang seharusnya bukan bebannya tapi (awalnya) secara terpaksa dia kerjakan, sampai rekan kerja ngeselin yang mendominasi, it makes me strong, she said.

Beberapa rekan kerja yang lain juga sempat berkesah pada saya tentang kepemimpinan Bos yang sekarang, membandingkan Bos yang dulu (yang juga pernah mereka keluhkan, untuk hal-hal yang lain). Saya? Kepada Bos Besar tentu saja tidak berpikir untk menyampaikan keluh kesah ini, karena saya percaya Bos Besar saya yang ini punya mekanisme sendiri untuk mendapatkan feedback dari mana saja yang dia inginkan. Kepada rekan yang berkeluh kesah, saya sampaikan kemungkinan perbedaan karakter yang membuat perbedaan gaya kepemimpinan, jadi ya nikmati saja, ambil pelajaran darinya (and as a reminder I speak to myself also :p). Saya pernah dipandang dekat dengan salah satu mantan Bos Besar. Tak banyak yang tahu saya pun pernah dikecewakan olehnya, yang waktu itu saya anggap plinplan dalam mengambil keputusan, yang kebetulan melibatkan saya. Saya pernah juga 'mengemban tugas' yang sebetulnya bisa dibagi-bagi tapi ujungnya hanya terkonsentrasi ke saya, tanpa kompensasi (mataduitan banget sih :D). Saya coba mengambil sisi positif dari situasi saya, saya menganggap tugas yang diberikan ke saya itu sebagai 'praktek pelatihan gratis' kepemimpinan, nothing to lose saja. Berada di posisi saya sekarang, dan melihat ke belakang, saya sadar apa yang saya alami, kekecewaan yang pernah saya rasakan pada mantan Bos Besar sedikit banyak berkontribusi pada cara saya menghadapi situasi sekarang.

Tak peduli berada pada situasi seperti apa kita saat ini, bagaimana atasan kita memperlakukan kita. Selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil. Hidup ini keseluruhan adalah proses belajar tiada akhir, maka siapapun yang memberi pelajaran, jenis pelajaran seperti apa yang diberikan, tetap berusaha untuk menyerap sebanyak-banyak dan lulus dalam ujianNya :)

gambar diambil dari sini