Pages

Saturday, July 23, 2011

Putri Sheby dan Pangeran Zulmi


Sore itu, ditengah antrian lampu merah yang ‘ular-ularan’, iseng, saya memeriksa HP yang ada di dalam ransel. Hati saya sudah degdegan begitu melihat ada 5 missedcall, 3 dari rumah, 2 dari HP si mbak asisten saya ditambah 1 sms pula darinya, “Bu, Dik Jum-panggilan sayangnya untuk si bungsu saya-jatuh sampe giginya lepas. Deg!! Rasanya ingin segera meninggalkan mobil di tengah antrian, dan langsung menyeberang jalan, ambil ‘jalan tikus’ dan berada disamping jagoan kecil saya. Setelah melewati 3 kali 99 detik yang panjang dan harus memutar sedikit ke arah Surabaya agar tidak perlu ‘menikmati’ sekali lagi satu putaran lampu merah dari arah depan komplek, sampailah saya di rumah..tetangga, yang proses bertegur sapa musti disambung dengan cerita darinya. Awalnya saya sudah ingin buru-buru kabur mengingat waktu yang terbuang di jalan tadi, tetapi si tetangga sebelah menceritakan betapa Sheby, si sulung saya, 5 menit yang lalu, berjongkok setengah melamun di pertigaan depan rumah kami. Ketika si tetangga bertanya, “Mbak, ngapain?” Sheby hanya menjawab pelan, “nunggu mama..” Dengan bujukan tetangga sebelah tadi akhirnya Sheby mau pulang dan menunggu saya di rumah. Perasaan saya makin tak keruan.

Dari luar sudah terdengar tangisan kesakitan si jagoan kecil dan suara sang kakak yang sedang menghiburnya. Salam saya sore itu, dijawab dengan tangisan yang makin keras, dan akhrnya saya dapati seisi rumah, si jagoan kecil dikerubungi kakak dan mbak-mbaknya yang sibuk membersihkan luka, mengompres es batu dan mengoleskan betadine. Wajah ‘si korban’ belum kelihatan waktu itu, begitu rombongan kecil itu menyibak, tampaklah mata sembab bekas menangis, bibir atas dan bawah yang bengkak dan penuh luka, gigi yang tanggal dan lengan serta jari jari yang luka luka sporadic. “Astaghfirullah.. kok bisa gini gimana Dek?” Jawabannya tangisan yang semakin kencang, si kakaklah yang bercerita kronologi kecelakaan yang ternyata melibatkan Osa, anak tetangga teman sepermainan mereka. Si kakak bilang, adiknya jatuh dari sepeda setelah dipukul pantatnya oleh Osa memakai kayu. Sambil panic saya gendong si adik ke tetangga depan rumah yang juga dokter untuk diperiksa luka-lukanya, saya berdoa dalam hati semoga tidak ada yang perlu dijahit atau semacamnya..

Saya sedikit lega ketika ternyata hanya disarankan Bu Dokter untuk membersihkan luka, mengoleskan betadine dan salep untuk bibir serta memberikan obat anti nyeri untuk Zulmi. Sesampai di rumah dan melaksanakan perintah Bu Dokter, saya memeluk Sheby sambil berterima kasih sudah membantu saya menjaga adiknya. Sheby bercerita, 3 missed call dari telpon tumah itu dari dia, dia yang membantu membawa sepeda si adik pulan dan dia bertanya kenapa saya lama sekali datangnya? Saya teringat cerita tetangga sebelah tadi, betapa dia berusaha membuat saya cepat pulang, bahkan dia rela menunggu saya di pertigaan karena menurutnya itu membuat saya jadi cepat pulang. Subhanallah.. anak sekecil itu sudah belajar begitu rupa bertanggung jawab menjaga adiknya, saya terharu. ‘Si korban’ yang merasa dicuekin mulai mencari perhatian dan bertanya, “Mama..tadi gigiku ketelen nggak ya?” Nah lho..

Si kakak yang menjawab, “Iya paling Dik, soalnya tadi takcari di deket tempatmu jatuh nggak ada tuh.. paling ketelen sama kamu”

“Berarti sebentar lagi tumbuh pohon gigi ya di kepalaku, Mbak..” sahut si adik sambil nyengir dengan ‘jendela baru’ di deretan gigi kelincinya.

Malamnya, si Bapak menelepon dengan santai mengabarkan dia sedang dalam perjalanan pulang, menjalani ritual mudik mingguannya. Dalam hatiku berkata, pasti belum buka foto yang kukirimkan beberapa saat lalu. Benar saja, sepuluh menit kemudian HPku berdering lagi, kali ini nada panik dari si Bapak (loudspeaker mode : on), " Gimana Zulmi kok bisa sampe gitu?, aku ngebut nih pulangnya..". Tahu tidak jawaban anak-anakku ketika mendengar hal ini?

Si Kakak : Adik sudah nggak papa kok Pak, nggak usah ngebut ya..

Si Adik : Bapaakk..nggak usah ngebut jalannya, pelan-pelan aja, aku nggak papa kok, ati-ati yaa..

Ah, anak-anakku hari ini aku belajar satu lagi cerita tentang tanggung jawab, kemandirian dan kasih sayang dari kalian

Gambar diambil dari sini

Tuesday, July 19, 2011

the lessons (I've) learned..


setelah lama *denganbanyakhuruf'a'* tidak menulis, kali ini saya coba buka dan baca-baca lagi blog ini, dan saya jadi ingin menulis meski tak punya ide mau menulis apa. Banyak yang terjadi selama setahun terakhir, kepindahan suami ke luar kota, kepindahan saya ke unit dan bidang lain, yang meskipun lokasinya masih sama tetapi ragam tugas dan kuantitasnya berbeda, anak-anak yang makin besar dan makin menuntut perhatian dari emaknya. Well. I'm a single mother on the weekdays, and full time house wife on the weekend. Semua itu sepertinya cukup jadi alasan buat 'lalai menengok' blog ini ya :) ok, enough excusing..

Beberapa hal menarik yang saya dapat dari pengalaman baru diatas. Pertama adalah kesempatan mengenal berbagai karakter orang. Saya yang defaultnya cuek dan (agak) susah berempati ini harus berusaha banyak mendengar, melihat dari berbagai sudut pandang, bahkan dari sudut pandang yang 'agak mustahil' sekalipun. Untungnya jaman muda dulu sering jadi tempat curhat (baca : tempat sampah cantik) teman teman dekat, dan sebagai anak sulung sering pula jadi tempat curhat ortu. Sehingga sedikit banyak saya tahu bagaimana menanggapi 'curhata-curhatan' itu. Ada beberapa yang memang ingin diberikan solusi, tapi banyak pula yang cuma ingin didengarkan. Nah, kesabaran mendengarkan, menanggapi dan merespon sesuai situasi dan kebutuhan si pencurhat ini yang menentukan besok-besoknya dia curhat lagi ga ke kita, atau ketika masalahnya selesai dia 'lapor' gak ke kita. Alhamdulillah pada beberapa kasus, ketika si permasalahan membaik si pencurhat kembali 'melapor' dan yang paling penting si pencurhat bisa kembali berkontribusi positif. Lesson learned lagi : tidak ada yang sia-sia selama kita berusaha melakukan sesuatu dengan sepenuh hati dan ikhlas.. Saya kemudian jadi tertarik mengamati respon orang terhadap segala sesuatu, dari situ saya tahu karakter orang-orang di sekeliling saya, sehingga memudahkan saya berstrategi jika ingin tujuan saya tercapai :D

Kedua, menjalani long distance marriage, tidak hanya membuthkan kemandirian lahir dan batin seperti yang sebelumnya saya kira. Tapi membutuhkan juga kesabaran, dan lagi lagi, keikhlasan.. Tampak luar saya mungkin adalah ibu dan istri yang mandiri, mengurus segala keperluan anak-anak dari mulai mengantar, menemani belajar, membayar tagihan semuanya sendiri. Tentu saja dengan dibantu asisten dan segala fasilitas serta kemudahan yang ada, tugas saya sangat terbantu. Tetapi tetap ada ruang kosong, dimana saya membutuhkan kehadiran partner, yang walaupun kadang-kadang abstain atau no comment, ketidakhadirannya tetap berbuah rindu. Terasa sekali ketika anak-anak sudah terlelap, seringnya benak saya mereview kegiatan hari ini, betapa banyak waktu yang mereka lewati tanpa saya, betapa si 'Anu' tadi begitu menyebalkan di kantor, dan banyak lagi cerita yang ingin saya bagi akhirnya bermuara padaNya, mengadu pada sebaik-baik tempat mengadu.. Kalau boleh memilih, saya memilih untuk 'going where the wind blows' asal tetap berkumpul dengan suami dan anak-anak. Tetapi ada keinginan lain yang harus saya hormati, yang konsekuensinya harus saya jalani dengan ikhlas..Lesson learned : kadang-kadang kita harus kehilangan untuk menyadari betapa berharganya yang kita miliki. Pada kasus saya yang berharga tetapi 'sedang' hilang adalah kebersamaan. Dulu, mau makan siang bareng suami setiap hari juga hayuukk saja. Mau antar jemput anak sekolah, anter anak ke dokter, pergi ke dokter, kemana mana *denganbanyakhuruf'a'* selalu berdua, atu kalo mau berdua sih gampang saja, tetapi sekarang momen berdua jadi hal yang langka, dan karenanya, priceless..

Tadi saya bilang beberapa ya, kok ternyata baru ketemu dua, berarti ya baru dua itu saja yang jadi pelajaran utama buat saya. All in all, buat saya, cara terbaik menerima suatu keadaan atau seseorang adalah berdamai dan berusaha menikmatinya..

gambar diambil dari www.google.co.id

Thursday, June 10, 2010

I don't need this...


I used to miss talkin' to you
oh, now I don't do that.
Since you've been gone I learned to stop
tryin' to hold on because
there's not one night, one single day
that I wouldn't give to you.
(Not One Night, Mr Big)

rasa nyeri yang menjalar ke sekujur tubuh itu,
yang sudah lama tak menderaku itu,
kali ini datang lagi.

sayang, pernahkah aku, menuntut ini itu padamu, meminta yang lebih darimu, mengharap yang bukan dirimu? mmm.. sepertinya tidak kan?
lalu kau pergi, membawa serta rindu dan separuh hatiku. meninggalkan banyak pertanyaan, dan lebih banyak lagi pekerjaan tentunya. adakah pilihan buatku selain melepasmu? mmm... sepertinya tidak kan?
pesanku satu : ceritakan semua ya, janji! sambil berharap kau akan sembuh dari tabiat lamamu, pelit kata-kata! dan belum genap sebulan pun, kau telah memberi sayap pada janjimu. baiklah, mungkin aku, dan segala yang kulakukan tak cukup buatmu, lalu aku masih menunggu kata-kata itu, cerita itu? mana? tak ada? tinggal aku sendiri, dan pemikiran-pemikiranku yang makin liar. dan mana penawar itu? akankah kau bagi aku sedikit? mmm.. sepertinya tidak kan? baiklah.
tanyakan lagi pada dirimu, untuk apa kau lakukan semua ini?
cobalah jujur pada diri sendiri, untuk kita? atau untuk-m u?
karena bisa kuyakinkan satu hal buatmu, i dont need this...

hari ini aku menangis lagi,
tapi kali ini bukan karena rindu...
dan aku berhenti menghitung hari
kadatanganmu...
honey, is it to much for asking of those words?

gambar diambil dari www.flickr.com

Wednesday, June 02, 2010

Dalam Doaku...




Oleh Sapardi Djoko Damono


"Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini,
kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin
yang turun sangat perlahan dari nun di sana,
bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi
dan bibirnya di rambut, dahi dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu,
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

dedicated to my love : yes, we miss you that much..
gambar diambil dari :
sabrinacm.wordpress.com/2007/12/11/21/

Tuesday, June 01, 2010

a life with(out) you..


If I could fall, Into the sky
Do you think time, Would pass me by

'Cause you know I'd walk A thousand miles
If I could Just see you

If I could Just hold you
Tonight...

(Vanessa Carlton, A Thousand Miles)

Ini bukan kepergianmu yang pertama tentu saja, tapi ini jelas yang paling lama dari yang sudah-sudah, dan semoga jadi yang paling lama. Sepertinya segala hal berubah menyebalkan ya, or it's just me? Langit oranye menjelang maghrib itu, yang biasa menemani langkah kita menjawab panggilanNya. Pedagang cilok di alun-alun itu, yang meski jajanan tak sehat, tapi kau tau aku suka, maka sesekali kau antar aku kesana. Sales penjual jet pump itu, yang biasa kau ladeni dengan ramah tamah plus segelas sirup segar. Pengemis di perempatan depan rumah itu, yang biasa tersipu malu begitu kaca mobil kau buka. Warung padang langganan kita itu, yang biasa jadi tempat kencan makan siang kita yang makin langka. Aih... mereka seperti berlomba-lomba mengingatkanku akan ketiadaanmu disisiku. Baru seminggu, sayang, dan hampir habis kata rinduku buatmu..

Hunny, you know what? I'm tired of living a life without you, I think I'm getting addicted, to you..



gambar diambil dari : crunchyphotoblog.blogsome.com/

Tuesday, December 16, 2008

mama..

Meninggalkan rumah mama lima tahun lalu membuat saya sadar, betapa selama ini kebutuhanku amat sangat terpenuhi. Mau makan tinggal ambil (ga suka lauknya tinggal tunggu orang lewat). Baju juga tinggal pakai, ga perlu repot nyunye (nyuci-nyeterika). Begitu nikah, ada sedikit 'keterkejutan' saat saya yang biasanya tinggal duduk, makan, cuci piring lalu harus ribet mulai dari belanja, masak, nyiapin makanan, cuci piring. Not to mention the laundry thing. Masa-masa awal menikah, tiap weekend mama selalu berhasil 'menangkap basah' saya yang lagi berkutat entah di dapur, ato di depan papan setrikaan, dan cuma terkekeh geli mendengar keluh kesah saya. Saya benar-benar baru merasakan nikmatnya tinggal di rumah mama setelah tak lagi tinggal disana, dan sekarang malah semakin terasa repotnya menyediakan asupan gizi umat manusia di rumah, sambil ngurus anak, sambil kerja,wheeww... Oia, kenapa ada gambar aneka rupa makanan diatas? Itu representasi mama saya yang jago masak dan bikin kue, mama saya bahkan sempet serius punya catering yang namanya "mafia" (singkatan nama anak2nya) , dimana saya sebagai pemberi ide kreatipnya. Jadi seumpama ada pesanan kue atau tumpeng, saya yang bikin desain bentuk, warna dan ornamen2 apa saja yang jadi hiasannya, terus ikut ngerjain detil pesanan itu sampe jauh malam, I miss those time so much Mom..

Waktu kecil, saya suka sebel ditinggal kerja sama mama, meskipun mama kerjanya ngajar yang cuma pagi sampai siang. Menginjak dewasa saya malah bangga dan bersyukur punya mama bekerja, walopun jadi anak guru membawa konsekuensi saya harus rajin belajar agar jadi anak pintar :p karena guru-guru saya ya teman- temannya mama. Jadi yang namanya ancaman maut " kalo males - bolos - dapet jelek ulangannya (coret yang tak perlu) tak bilangin mamamu lho.." sudah ga mempan buat saya, malah yang bikin saya sebal adalah komentar " pantes aja nilainya bagus, kan ibunya guru" ketika saya, karena rajin belajar, dapet nilai bagus. Lha jelas aja saya gondok, wong mama saya itu guru BP, kan tak ada hubungannya sama nilai menilai pelajaran, weleh!! Ketika sudah jadi mama dan bekerja seperti sekarang, saya sangat memahami alasan-alasan mama terus bekerja, dan jawaban mama ketika kami (saya dan adik saya) bertanya, "mama kenapa sih kok kerja terus? biar papa aja yang kerja, mama di rumah nemenin kita" waktu itu mama hanya menjawab , "mama kerja buat kalian, nanti kalo kalian besar kalian pasti ngerti.." Dan sekarang pun saya berharap, anak-anak saya, terutama Sheby, akan sampai pada pemahaman seperti pemahaman saya sekarang tentang mengapa mamanya harus terus bekerja.

Hari ini mama saya genap 56 tahun, insyaAllah masih 4 tahun lagi baru pensiun dan bisa dititipi anak-anak saya, tapi pada saat itu mereka sudah agak gede dan mungkin ga terlalu perlu dititipkan lagi *ini juga satu lagi yang saya kurang suka punya mama bekerja dan nikah muda :p, mama susah dititipin cucu, belum pensiun sih..*

Happy Birthday Mom, semoga sehat selalu dan bisa melihat tumbuhkembang para cucu, amiin...

cemburu..

kejora itu, yang sinarnya lebih terang dari bintang manapun.
tak kusangka akan melihatnya lagi.
di matamu, setelah kusebutkan nama itu.
lalu hatiku kelu.